Peziarah Padati Makam Wali Mangkuyudo

Peziarah Padati Makam Wali Mangkuyudo
TEMANGGUNG (KRjogja.com) – Ratusan peziarah dari berbagai daerah mendatangi lokasi kompleks pemakaman Wali Mangkuyudo di Desa Ketitang Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung. Tradisi seperti ini   disebut tradisi  ritual sadranan yang dilakukan peziarah dan warga setempat menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Juru kunci makam Wali Mangkuyudo, Jupriono (50), Minggu (07/07/2013) menyebtukan tradisi sadranan melekat sejak lama dan kini terus dilestarikan sebagai bagian dari tradisi Jawa. “Wali Mangkuyudo konon merupakan kerabat dari Sunan Kalijaga. Semasa hidupnya, Wali Mangkuyudo sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di kawasan Temanggung. Peziarah yang mendatangi makam beliau dari Jabar, Jateng, Jatim dan Yogyakarta,” ungkapnya.

Kompleks makam tersebut dinilai merupakan situs bersejarah. Jupriono menuturkan, dua bulan yang lalu, kompleks makam masih berupa kawasan yang berserakan dengan benda-benda bebatuan mirip candi.”Kawasan Jumo dulunya diperkiarakan merupakan salah satu petilasan peninggalan agama Hindu dan Budha, sehingga banyak ditemukan batu-batu candi. Sedangkan secara resmi oleh pemerintah kecamatan, kawasan ini dibuka untuk wisata religi ziarah,” paparnya.

Kepala KUA Jumo, Saubari (48) yang ditemui di lokasi bersejarah tersebut mengemukakan, makam wali satu ini selayaknya mendapatkan perhatian dari pemerintah. “Ada situs berupa tempat ibadah yakni Masjid  Tumenggung Mangkuyudo yang cungkup atap, tiang soko serta bedugnya masih asli dan berusia sangat tua. Sampai kini keontentikannya masih dijaga,” jelasnya.

Khusus menjelang bulan Ramadhan, kompleks makam dan masjid ramai dikunjungi peziarah. Warga bersama peziarah menggelar sadranan dengan menggelar do’a bersama dan makan bersama berupa tumpeng sega megono, ingkung ayam dan menu tradisional lainnya.

“Kami terus menekankan kepada peziarah dan warga bahwa mengunjungi makam Wali Mangkuyudo harus diniati sebagai sarana bersilaturahmi dan berdoa’a kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jangan ziarah ini dijadikan syirik untuk meminta kepada orang yang telah meninggal,” pinta Saubari.

Sebagai kawasan wisata religi, di kompleks makam Wali Mangkuyudo sudah terpasang sejumlah papan petunjuk yang memudahkan peziarah dari luar daerah menuju lokasi yang letaknya begitu asri di tengah perkebunan kopi.  Menurut Saubari, dengan dibukanya secara resmi kawasan wisata religi ini, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan warga Ketitang, Jumo.(Mud)

http://krjogja.com/read/179391/peziarah-padati-makam-wali-mangkuyudo.kr